Pascatragedi berdarah rusuh napi teroris di Rusun Cabang Salemba Mako Brimob, Kelapa Dua, Cimanggis, Kota Depok yang menyebabkan lima polisi gugur, Selasa (8/5), kabar duka kembali menyelimuti kepolisian Indonesia. Anggota Satuan Intel Korps Brimob Bripka Marhum Prencje juga gugur ditusuk orang mencurigakan saat bertugas, kemarin (11/5) sekitar pukul 02.29 WIB.
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol
Setyo Wasisto mengatakan, pelaku penusukan diketahui berinisial TS,
Sekitar pukul 23.39 WIB, Bripka MArhum Prencje sedang melakukan
pengamanan di sekitar Mako Brimob. Ia melihat orang mencurigakan sedang
mengamati penjagaan Korps Brimob Polri Selama kurang lebih dua jam.
Kemudian, Bripka Marhum meminta dua rekannya yaitu Briptu Rahmat
Muin dan Briptu Gustri Uce guna meminta keterangan terhadap orang
mencurigakan tersebut, selanjutnya dibawa kesalah satu kantor di Kor
Brimob untuk dimintai keterangan. "Ketika ditanya mengaku bernama Tendi
Sumarno, dibawa ke salahs atu ruangan Korps Brimob Polri untuk diminta
keterangan karena gelagat dan tingkah lakunya sangat mencurigakan,"
ungkap Setyo.
Saat diamankan, sempat dilakukan
penggeladahan terhadap Tendi di badan dan tas yang ia bawa. Namun,
aparat tidak menemukan barang mencurigakan dari Tendi. Akhirnya, Tendi
dibawa ke kantor Korps Brimob Polri menggunakan sepeda motor.
Setibanya di kantor, saat akan masuk ke suatu ruanan Tendi
tiba-tiba mengeluarkan sebuah pisau yang disimpan di bawah alat
kemaluannya kemudian menikam Bripka Marhum.
"Pada saat
berjalan ke ruangan, Bripka Marhum di depan, kemudian TS, Briptu Gustri
dan Briptu Muin. TS tersebut mengejar Marhum dan menikam pada bagian
perut. Setelah itu TS berbalik mengejar Briptu Gustri dengan pisau,"
kata Setyo.
Namun, Briptu Gustri berhasil menghindar dan
melaukan penembakan terhadap Tendi. Atas peristiwa itu, Tendi jatuh
tersungkur dan meninggal dunia di tempat.
Sementara itu,
Bripka Marhum dibawa ke RUmah Sakit Bhayangkara Brimob. "Namun setelah
beberapa saat menjalani perawatan, kemudian ia (Bripka MArhum) juga
gugur," kata Setyo.
Dalam peristiwa itu, Polri
mengamankan satu buah pisau, dua saksi yaitu Briptu Gustri dan Briptu
Rahmat, korban meninggalBripka Marhum dengan luka tikam di perut dan
Tendi yang telah meninggal dunia di tempat. "Hingga saat ini kepolisian
melakukan penyelidikan kejadian tersebut untuk mengetahui latar belakang
siapa TS tersebut ," katanya.
Terpisah, pisau yang
digunakan pelaku Tendi Sumarsono untuk menikam Bripka Marhum Prencje
ternyata beracun. Hal itulah yang menyebabkan angota dari satuan intel
Korps Brimob Polri tersebut langsung meninggal.
Kapolri
Jenderal Tito Karnavian menerangkan, sebenarnya Bripka Marhum hanya
disabet bukan ditusuk Tendi Sumarno seperti yang diberitakan sebelumnya.
"Sebetulnya ya menyabet. Beda. Menusuk itu tajam ke dalam, ini
menyamping," ujar Tito usai mendatangi rumah duka Aipda Luar Biasa
Anumerta Denny Setiadi, Lubang Buaya, Jakarta Timur, Jumat (11/5).
Luka
yang diterima itu pun tidak terlalu besar. Sayangnya, pisau yang
digunakan untuk menyabet Marhum beracun. "Ini luka yang sangat kecil
kemungkinannya besar ini beracun, ini sedang diperiksa Puslabfor," kata
Tito.
Bripka Marhum juga tak sempat tertolong karena
pengaruh racun tersebut. "Anggota langsung dibawa ke rumah sakit untuk
pengobatan tapi setelah sampai di rumah sakit yng bersangkutan
dinyatakan meninggal," tutur Tito.
Sebelumnya, Kapolri
Jenderal Tito Karnavian memberikan penghormatan terakhir kepada Bripka
Marhum Prencje. Penghormatan diberikan di Mako Brimob, Kelapa Dua,
Cimanggis, Depok, Jumat (11/5). "Tadi pak Kapolri melayat almarhum
Bripka Marhum Prencje di Mako Brimob," ujar KAropenmas Divhumas Polri
Brigjen Muhammad Iqbal.
Mantan Kapolrestabes Surabaya
itu mengatakan, Bripka MArhumakan mendapat penghargaan kenaikan pangkat
luar biasa menjadi Aipda Luar Biasa Anumerta Marhum Prencje. "Iya
diberikan kenaikan pangkat luar biasa," tambahnya.
2. REWRITE DARI KORAN REPUBLIKA " Trump dan Kim Sepakat Bertemu 12 Juni"
Presiden
Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan rencana pertemuannya dengan
Presiden Korea Utara (Korut) Kim Jon-un. pengumuman disampaikan melalu akun
Twitter Trump
"pertemuan
yang sangata diantisipasi antara Kim Jong-un dan saya akan berlangsung pada 12
Juni. Kami berdua kaan mencoba menjadikannya momen yang sangat istimewa untuk
Perdamaian Dunia!" kicau Trump di Twitternya.
Dilansir
The Guardian, Jumat (11/5), Trump membuat pengumuman tersebut setelah pesawat
Pemerintah AS mendarat di Washington
Pesawat itu membawa orang Amerika yang yang telah dibebaskan oleh pihak Korut
menjelang KTT Kim dan Trump.
Trump
meenghadapi tugas yang sulit untuk membujuk Kim meninggalkan senjata nuklit dan
uji coba rudal balistik yang menigkakan ketegangan AS - Korut sepanjang 2017.
Kedua presiden itu saling melontarkan kata - kata kasar atas upaya Korut
membangun senjata nuklir yang bisa mencapai AS. Namun, ketegangan tersebut
mereda, setelah Korut mulai berpartisipasi dalam Olimpiade Musim Dingin di
Korea Selatan (korsel) pada Februari 2018.
Trump
mengatakan bahwa dia percaya Kim yang telah memimpin Korut selama tujuh tahun
akan membawa negaranya ke "dunia nyata"
"saya
pikir kami memiliki peluang sangat bagus untuk melakukan sesuatu yang sangat
berarti. prestasi saya yang paling membanggakan adalah ketika kami
mendenuklirisasi seluruh semenanjung itu," kata Trump.
Menteri
Luar Negeri AS Mike Pompeo sudah dua kalo mengunjungi Pyongyang, kunjungan
pertama sebagai kepala CIA. Namun, ia belum meyampaikan pernyataan bahwa korut
bersedia mengentikan senjata nuklirnya.
Trump
memulai pertemuan dengan Kim setelah mengejutkan dunia dengan mengumumkan bahwa
AS menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran 2015. Hal ini menimbulkan
pertanyaan terkait sikap AS terhadap nuklir Korut.
Senator
Demokrat Chuck Schumer memperingatkan Trump terkait pertemuannya dengan Kim di
Singapura. Menurut dia, Trump harus menuntut komitmen perlucutan senjata yang
kuat dan dapat diverifikasi dari korut.
"Saya
khawatir presiden ini, dengan keinginannya untuk membuat kesepakatan dan
mendapatkan pujian, akan melakukan kebijakan yang buruk dan tidak bertahan
lama. Bukan kebijakan yang kuat dan abadi," kata Schumer.
Singapura
Merupakan sekutu AS yang kuat. Angkatan Laut AS sering berlabuh di
pelabuhannya. Para pejabat AS telah mencari beberapp kemungkinana tempat lain
selain Singapura untuk pertemuan bersejarah tersebut. Pilihan Trump sendiri
adalah zona demiliterisasi antara keduanya. Namun, para pembantunya berpendapat
itu akan terlihat seperti Trump mengunjungi Kim.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar